April, 2007

Internet Mind Virus

* terjemahan bebas versi  gw.o1
* dari http://www.memecentral.com/antidote.htm

Kemungkinan secara tak sengaja kamu telah menyebarkan virus-pikiran (virus of the mind) ? Menyebarkan kabar-bohong dan informasi-salah kepada teman-teman kamu?

Kemungkinan kamu atau se-seorang yang kamu kenal telah menjadi korban dari apa yang bisa disebut sebagai Virus-Pikiran-dari-Internet (Internet Mind Virus)?

Mungkin saja kamu telah menjadi korban. Tapi jangan takut: obatnya ada disini. Kamu mungkin pernah mendapatkan pesan/email yang menjanjikan uang, ke-beruntungan, atau sex – dan menyebarkannya kembali. Pesan/email tentang adanya virus komputer baru yang berbahaya, dan meminta-mu untuk memberitahu semua teman-teman kamu, secepatnya! Atau mungkin kamu pernah melihat joke-joke yang lucu yang membuatmu ingin mengirimkan-nya kepada seluruh teman kamu – secepatnya, sebelum mereka mendapatkan-nya dari orang lain!

Semua itu adalah VIRUS. Bukan virus komputer, tetapi adalah VIRUS-PIKIRAN. Seluruh pesan/email yang kamu terima tersebut memiliki satu kesamaan: mereka mengandung pesan-pesan yang sangat menarik (compelling messages, or memes), yang menangkap dan menarik perhatian kita dan meyakinkan kita untuk menyebarkan pesan-pesan tersebut. Pesan yang menarik (meme) ini bermain dengan ketakutan kita akan kehilangan, atau rasa malu, atau menarik kita dengan janji-janji sex atau uang atau keberuntungan. Beberapa pesan tersebut membuat kita merasa nyaman tentang diri kita karena kita percaya bahwa kita telah melakukan suatu kebaikan dengan menyebarkan pesan-pesan tentang orang-orang yang membutuhkan pertolongan atau menyebarkan petisi.

Dan kadang kita memang telah berbuat suatu kebaikan. Suatu virus-pikiran atau meme tidak selamanya jelek. Tapi apakah kamu akan menyebarkan virus-pikiran-misterius kepada teman-teman kamu? Tentu tidak.

Suatu Virus-Pikiran-dari-Internet yang sangat kuat akan secara tidak sadar memaksa kita untuk mengirimkan-nya kembali kepada orang lain. Pesan/email tersebut akan menyebar dengan sangat hebatnya ketika kita dan orang-banyak yang lain menolong untuk menciptakan-nya kembali. Informasi yang terdapat dalam pesan/email tersebut – apakah benar atau salah, berguna atau tidak – akan tersebar-luaskan, meng-infeksi dan mem-pengaruhi banyak orang.

Kebanyakan dari virus-pikiran tersebut tersebar karena mereka berisi pesan yang menarik atau menakutkan atau meng-inspirasi, dan mungkin saja tidak sepenuhnya benar. That’s the problem.

Apa yang dapat kamu lakukan

Untuk dapat menghentikan menyebarnya Virus-Pikiran-dari Internet secara sembrono, kita dapat memulai dengan BERPIKIR. Berhentilah dari menyebarkan pesan apa-saja yang baru kamu terima yang mana asal-muasal-nya gak jelas. Suatu pesan tidak mesti benar walaupun pesan itu mengatakan demikian.

Suatu virus-pikiran yang menyuruh kamu untuk menyebarkan-nya segera adalah sebuah virus-pikiran yang mencoba untuk berkembang-biak.

Dalam hal menyebarkan pesan-pesan dari internet, janganlah hanya mengandalkan emosi-mu. Lihatlah siapa sumber-nya yang bisa dipercaya untuk membuktikan hal tersebut. Kalau perlu tanya-lah kepada yang lebih ahli.

Jokes/lelucon adalah salah satu bentuk Virus-Pikiran-dari-Internet yang paling tidak berbahaya, karena lelucon at-least tidak ber-pura-pura bahwa itu adalah suatu kebenaran. Tapi kadang jokes/lelucon ada juga yang ber-pura-pura lucu. Tanyalah dirimu lebih dari sekali sebelum mengirimkan joke/lelucon apakah lelucon tersebut bermanfaat dan tidak mengganggu waktu teman-teman kamu.

Satu hal penting untuk di-ingat bahwa setiap orang yang menyebarkan virus telah membuatnya tetap hidup. Sekali tersebar, Virus-Pikiran-dari-Internet – bahkan virus yang menyebarkan kebohongan parah – akan sangat sulit untuk dibunuh.

Virus-Pikiran-dari-Internet tidak semuanya membuang-buang kepercayaan, dan waktu. Sebagain dari virus tersebut juga memberikan sesuatu yang lebih. Suatu lelucon yang baik atau petunjuk kepada suatu web-site yang bagus sekurang-kurang-nya dapat mencerahkan seseorang.

Tapi sebelum kamu menyebarkan suatu pesan, berhenti sejenak dan berpikirlah. Tanyalah dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah pesan/email tersebut menyuruh mu untuk mengirimkan-nya kembali?
  • Apakah pesan/email tersebut menggunakan bahasa yang menekan atau bernada seperti surat-kabar?
  • Apakah pesan/email tersebut menyuruh mu untuk takut akan sesuatu?
  • Apakah pesan/email tersebut menjanjikan mu sex atau uang atau keberuntungan?
  • Apakah pesan/email tersebut membangkitkan perasaan sedih dan kasihan?


Antidote

Tulisan ini adalah counter-virus, jika kamu menerima Virus-Pikiran-dari-Internet, kirimkanlah halaman ini atau link ke web berikut: http://www.memecentral.com/antidote.htm, kepada sang pengirim virus.

Salah satu cara paling nyata yang dapat kita lakukan untuk malawan Virus-Pikiran-dari-Internet adalah dengan meningkatkan kemampuan pemikiran kita untuk menolak Virus Pikiran tersebut, dan menolong teman kita untuk dapat melakukannya.

Walaupun tidak semua Virus-Pikiran-dari-Internet adalah merusak, bahkan yang paling baik pun dari virus-pikiran tersebut akan memakan waktu dan perhatian mu dan siapapun yang mendapatkan virus-pikiran tersebut. Sebelum mengirimkan sebuah pesan/email, pastikan bahwa itu benar, dan pastikan it’s worth the cost.

Moto-GP, Istanbul-2007

Buat penggemar Rossi, Moto-GP di Turki kemaren sepertinya akan cukup mengecewakan. Rossi yang start dari urutan pertama, harus turun ke posisi 5 karena jauh-keluar jalur di tikungan ke-11 di lap-1 (he was just lucky to able to hold-on to his bike and continued the race). Masih bisa ngejar kembali sampai ke posisi-2 yang kemudian harus bertarung ketat untuk posisi ini sampai akhirnya motor-Yamaha-M1-nya seperti mengalamai masalah, Rossi terus melambat, kehilangan posisi dan masuk finish di urutan 10. Eniwei, it was exciting race though…
Stoner dan Ducati-nya sepertinya terlalu kuat buat siapa-pun… will see what Rossi could come up to the challenge.

Gw udah tertarik nonton balap Moto-GP sejak SMP, kira2 17 thn lalu.. phew. Gw ingat waktu itu dapat hadiah kalender 12 halaman lux yang isinya gambar2 Moto-GP (dulu namanya masih GP 500)  in action. Gambarnya keren2 and I think I fell in love on the first sight. Kebetulan juga pertandingan GP-500 kadang suka disiarin di tivi walaupun bukan siaran langsung, dan akhirnya jadilah gw penggemar Moto-GP sampai sekarang.
Kamu mesti pernah jalanin motor dengan kecepatan tinggi untuk dapat mengerti seberapa menarik dan berbahaya-nya balapan ini. Kecepatan maksimal bisa lebih dari 300km/jam, melahap tikungan dengan kecepatan motor diatas 100 km/jam, dengan kemiringan 30 derajat dari aspal.. those Moto-GP guys seems to have their nerves made of steel..

Dapat beberapa gambar dari Moto-GP kemaren.
I love Moto-GP… :)

Istanbul05

Rossi dan ritual sebelum balapan

Istanbul07

Rossi in action

Istanbul06

more actions..
gak kebayang gimana ban-nya bisa lekat ke aspal dlm high speed n miring pula..

Istanbul01

high-speed-touch… ouch

Istanbul08

and some ugly crashes…

Istanbul04

teduh..

Istanbul03

and Beauty…

i love Moto-GP.. :)

(all picts from www.crash.net)

none…

Seperti biasa gw ke bogor Jum’at malam, kemaren naek kereta express Sudirman, turun di BojongGede trus lanjut pake ekonomi ke Bogor-nya. Lumayan, kereta ekonominya udah rada sepi.. biasanya kalo jam sibuk, kereta ekonomi ini ‘pamer-paha’ (padat merayap-tanpa harapan…)

Bangun sabtu pagi kost-an lumayan ramai.. ternyata si-pasangan-muda - yang baru tinggal di kost sebulanan - lagi berantem dengan ramainya.. gak tau masalahnya apa tapi kemudian ibu kost yang coba mendamaikan malah kena semprot .. well, that’s a very bad idea… berantem di kost-an sampai bikin gaduh udh lumayan parah apalagi ini sampai marah2 gak keruan ke ibu-kost-nya. You are very much invited to be kicked out.. so they did, kicked-out badly… sorenya kamar mereka udh kosong-melompong, very stupid-young-couple.

Motor Tiger-ku baru saja di service pertama (setelah 2 bulan/500km) dan gw baru ngerasain kalo sebelumnya si-Tiger masih gak ada apa-apanya. Setelah di service baru ketahuan performance and power sebenarnya… awesome. Gak tau nanti seperti apa si-Tiger setelah diservice kedua (2 bulan lagi). Eniwei, bawa motor di Bogor or Jakarta mesti super-extra-hati2.. boleh jadi kita udah hati2.. tapi motor, angkot or orang-nyebrang kadang gak tau aturan… already had some-real-so-very-close-encounters..

balik ke Jakarta Senin-pagi-bngt..

Becoming What We Are

Bila kamu mengunjungi dan berada dalam
sebuah museum seni yang besar, kamu dapat melihat bahwa Van Gogh tidak
menggambar dunia seperti halnya Rembrandt, Picasso tidak melihat alam
seperti halnya Goya, Georgia O’Keffe tidak persis sama dengan Rivera,
Salvador Dali tidak mirip siapa-pun kecuali dirinya sendiri, dan,
secara umum, tidak satu-pun pelukis kelas dunia yang menjadi “legenda”
hanya dengan melakukan dan meniru apa yang telah dilakukan oleh orang
lain di jaman2 sebelumnya atau mencontoh orang2 pada jaman-nya sendiri.

Dalam dunia sains, nama-nama seperti
Einstein, Dirac, pasangan Curie, Bohr, Heisenberg, Schroedinger, John
Bell, dll. Terus di-ingat orang karena tidak satu-pun dari mereka yang
menganggap Newton sebagai Kitab Suci: mereka masing-masing menciptakan
inovasi-inovasi yang unik dan tak-terduga dalam bidang ilmu dasar.

Dan bila kamu mengira bahwa kasus-kasus
seperti ini hanya terjadi dalam dunia “seni dan sains” saja, coba
perhatikan orang-orang yang paling berhasil dalam dunia industri. Henry
Ford tidak menjadi kaya karena menjiplak kapal uap-nya Fulton; Ford
membuat mobil yang sangat murah sehingga orang-orang kebanyakan dapat
membelinya. Howard Hughes menproduksi film yang mana tak seorang-pun
berani untuk mencobanya, dan kemudian dia berlanjut dengan merevolusi
dunia industri penerbangan. Buckminster Fuller tidak cuman bisa meniru
bentuk-bentuk kubus dari arsitek-arsitek jadul, tapi dia menciptakan
bentuk kubah geodesic; dalam hitungan terkini, lebih dari
300.000 gedung rancangannya telah tercipta, menjadikan dirinya sebagai
seorang arsitek yang paling sukses dalam sejarah. Steve Wozniak tidak
meniru sistem komputer yang ada pada jaman-nya, dia menciptakan
komputer yang bahkan orang tolol pun dan menggunakannya (dan
menikmatinya). Bill Gates menciptakan berbagai macam software jenis
baru, dst.

Kita butuh untuk terus-menerus ingat akan
hal-hal tersebut karena kita hidup dalam dunia dimana ber-bagai macam
energi dan kekuasaan yang sangat kuat bekerja dan menghambat kita, dari
mulai lahir kemudian di sekolah berlanjut ke pekerjaan, dimana
kekuasan2 tersebut berusaha untuk menekan sisi-sisi kepribadian,
kreativitas dan keingin-tahuan kita -– dengan perkataan lain, energi
dan kekuasaan2 tersebut berusaha untuk menghancurkan segala sesuatu
yang mendorong kita untuk berpikir secara mandiri.

Orang tua menginginkan kita untuk ber-laku
seperti anak-anak tentangga yang lain; mereka sama-sekali tidak ingin
anak laki2 atau perempuannya tampak “aneh” atau “berbeda” atau “sangat
terlalu pintar”.

Kemudian kita memasuki dunia Sekolah Dasar,
suatu nasib yang lebih buruk dari kombinasi Maut dan Neraka. Tak peduli
kita masuk ke sekolah negeri atau sekolah swasta agamis, kita belajar 2
pelajaran dasar: 1) Hanya terdapat satu jawaban yang benar untuk setiap
pertanyaan; dan 2) pendidikan terdiri dari proses menghapalkan satu
jawaban yang benar dan mengulanginya terus-menerus sampai tiba waktunya
“ujian”.

Taktik dan metode ini terus berlanjut
sampai Sekolah Menengah dan terus sampai tingkat Universitas/Perguruan
Tinggi, mungkin terkecuali dalam beberapa kecil bidang sains tertentu.

Selama dalam proses “pendidikan” ini, kita
terus-menerus mendapatkan diri kita di-bombardir oleh
Agama-yang-ter-Organisir. Kebanyakan agama, di belaham bumi ini, juga
mengajarkan kita tentang “hanya ada satu jawaban yang benar”, yang
harus kita telan dan percaya mentah-mentah; lebih parah lagi, mereka
mencoba untuk meneror dengan ancaman kita akan dipanggang, direbus, dan
dibakar di alam setelah-mati nanti bila kita pernah mencoba untuk
berani berpikir sendiri.

Setelah lebih dari 18-sampai-30 tahun
menjalani proses tersebut diatas, kita kemudian masuk kedalam dunia
kerja, dan belajar untuk menjadi, atau mencoba untuk menjadi, hampir
tuli, tolol dan buta.

Seperti kata seorang guru saya J.R. “Bob”
Dobbs, “Kamu tau gak seberapa tolol-nya seorang manusia rata-rata?
Well, secara definisi matematis, setengah dari mereka bahkan lebih
tolol dari itu”.

“Bob” mungkin menyalah-artikan antara
rata-rata dan median, tapi bagaimanapun juga dia mengatakan sesuatu
yang jelas. Setengah dari orang yang kamu jumpai bahkan lebih bodoh
dari sekotak batu; tapi sebenarnya mereka tidak terlahir demikian.
Ortu, keluarga, teman2, sekolah, tempat-ibadah, iklan2 di-berbagai
media dan pekerjaan telah menjadikan mereka seperti itu. Setiap bayi
terlahir dengan memiliki sifat rasa ke-ingin-tahuan dan
ke-ingin-mencoba yang tinggi. Hanya dibutuhkan se-per-tiga usia kita
untuk melenyapkan rasa ingin-tau dan kemauan ber-eksperimen tersebut;
dan dalam kebanyakan kasus, kita menjadi bagian dari
"gerombolan-ternak" yang patuh dan tenang.

Gerombolan-ternak dalam wujud manusia ini
masing-masing awalnya lahir dan memiliki potensi sebagai jenius,
sebelum akhirnya konspirasi lihai dari aturan-aturan sosial
menghancurkan otak dan pikiran mereka. Mereka semua sebenarnya dapat
kembali mendapatkan kebebasan yang telah hilang tersebut, jika mereka
mau bekerja cukup keras untuk itu.

Aku telah bekerja sedemikian selama hampir
lebih dari 50 thn hidupku, tapi kadang dalam beberapa keadaan aku masih
tetap menjumpai beberapa bagian diriku yang ber-laku seperti robot atau
zombie. Belajar untuk “bagaimana menjadi dirimu yang semestinya” akan
membutuhkan waktu seumur hidup, tapi sepertinya hanya itu pilihan
terbaik yang ada sekarang.

(terjemahan bebas versi gw.01..)

======================================================================

If you stroll through a large art museum, you will notice that Van Gogh does not paint the same world as Rembrandt, Picasso does not see things the way Goya did, Georgia O’Keefe doesn’t much resemble Rivera, Salvador Dali looks like nobody but himself, and, in general, no world-class artist became a "classic" by doing what somebody else had already done or even what everybody else in his/her own era did.

And in science, the names of Einstein, Dirac, the Curies, Bohr, Heisenberg, Schroedinger, John Bell etc. live on because none of them took Newton as Holy Gospel: they all made unique and unpredictable innovations in basic theory.

And, in case you think this applies only to "arts and sciences," consider the most successful people in industry. Henry Ford did not get rich copying Fulton’s steamboat; he made a car so cheap that anybody could afford one. Howard Hughes produced movies that nobody else would have dared to attempt, and then went on to revolutionize the airline industry. Buckminster Fuller did not copy the cubical form of previous architects, but invented the geodesic dome; at last count, over 3OO,OOO of his buildings existed, making him the most visibly successful architect in history. Steve Wozniak did not copy the computers of his day, but invented one that even an "bloody eejit" (like me) could use (and even enjoy!) Bill Gates created new kinds of software. Etc.

We all need constant reiteration of these truism because we live in a world where a multitude of very powerful forces have worked upon us, from birth through school to work, attempting to suppress our individuality, our creativity and, above all, our curiosity — in short, to destroy everything that encourages us to think for ourselves.

Our parents wanted us to act like the other children in our neighborhood; they emphatically did not want a boy or girl who seemed "weird or "different" or (Heaven forefend) "too damned clever by far."

Then we enter grade school, a fate worse than Death and Hell combined. Whether we land in a public school or a private religious school, we learn two basic lessons: 1) There exists one correct answer for every question; and 2) education consists of memorizing the one correct answer and regurgitating it on an "examination."

The same tactics continue through high school and, except in a few sciences, even to the university.

All through this "education" we find ourselves bombarded by organized religion. Most religions, in this part of the world, also teach us "one correct answer," which we should accept with blind faith; worse, they attempt to terrorize us with threats of post-mortem roasting, toasting and charbroiling if we ever dare to think at all, at all.

After 18-to-30+ years of all this, we enter the job market, and learn to become, or try to become, almost deaf, dumb and blind.

As my mahatma guru J.R. "Bob" Dobbs says, "You know how dumb the average guy is? Well, mathematically, by definition, half of them are even dumber than that."

"Bob" may have the average confused with the median, but otherwise he hit a bull’s eye. Half of the people you meet do indeed seem dumber than a box of rocks; but they did not start out that way. Parents, peers, schools, churches, advertisers and jobs made them that way. Every baby at birth has a relentlessly curious and experimental temperament. It takes the first third of our lives to destroy that curiosity and experimentalism; but in most cases, we become placid parts of a docile herd.

This human herd all started out as potential geniuses, before the tacit conspiracy of social conformity blighted their brains. All of them can redeem that lost freedom, if they work at it hard enough.

I’ve worked at it for 5O+ years now, and still find parts of me acting like a robot or a zombie on occasion. Learning "how to become what you are" (in Nietzsche’s phrase) takes a lifetime, but it still seems the best game in town.

Copyright: Robert Anton Wilson

Jokes…

Sorry, gak ada terjemahan…

========================================================

Three gents were drinking apple martinis in a bar and had gotten to the stage of arguing about details.

“I tell you it’s spelled W-O-O-M,” the first said loudly.

“No no, no,” the second protested. “It’s W-O-O-O-M.’

“You’re both wrong,” the third ventured.

“I say it’s W-O-O-M-B.”

A gynecologst that sitting in the bar spoke up. “You’re getting close,” she told them. “Actually, it’s W-O-M-B.”

They stared at her a moment, then stared at each other. Finally one spoke:

“Madam,” he said, “it’s obvious that you’ve never heard an elephant fart.”

========================================================

A radio station was running a competition - words that weren’t in the dictionary yet could still be used in a sentence that would make logical sense. The prize was a trip to Bali.

DJ: "96 FM here, what’s your name?"

Caller: "Hi, my name’s Dave."

DJ: "Dave, what’s your word?"

Caller: "Goan… spelt G-O-A-N pronounced ‘go-an’."

DJ: "You are correct, Dave, ‘goan’ is not in the dictionary. Now, for a trip to Bali: What sentence can you use that word in that would make sense?"

Caller: "Goan fuck yourself!"

The DJ cut the caller off and took other calls, all unsuccessful until:

DJ: "96 FM, what’s your name?"

Caller: "Hi, me name’s Jeff."

DJ: "Jeff, what’s your word?"

Caller: "Smee, spelt S-M-E-E, pronounced ’smee’."

DJ: "You are correct, Jeff, ’smee’ is not in the dictionary. Now, for a trip to Bali: What sentence can you use that word in that would make sense?"

Caller: "Smee again! Goan fuck yourself!"

============================================

Rodney walks into a bar and says, "Bartender, give me two shots. One for me and one for my best buddy here."

The bartender says, "You want both drinks now or do you want me to wait until your buddy arrives to pour his?"

Rodney says, "Oh, I want them both now. I’ve got my best buddy in my pocket here." With that he pulls out a little 3-inch man from his pocket.

The bartender says, "Wow! And you mean to say he can drink that much?" "Oh, sure. He can drink it all, and then some," Rodney retorted. So the bartender poured the two shots. Sure enough, the little guy drinks it all up.

"That’s amazing," says the bartender. "What else can he do? Can he walk?" Rodney flicks a quarter down to the end of the bar and says, "Hey Al, go get that quarter!" The little guy runs down to the end of the bar, picks up the quarter, and runs back down and gives it to Rodney.

The bartender is totally amazed by this display. "That’s a hoot," he says, "what else can he do? Does he talk?"

Rodney looks up at the bartender with a look of surprise in his eye and squawks, "Talk? Sure he talks –too bloody much. Hey Al, tell him about that time we were in down in Africa on safari and you told that witch doctor to go fuck himself!"

=================================

There was a young gaucho named Bruno
Who said "Sex is the one thing I do know.
Women are fine
And sheep are divine
But the iguana is Numero Uno!"

======================================

"I’ve seen a look in dogs’ eyes, a quickly vanishing look of amazed contempt, and I am convinced that basically dogs think humans are nuts."
    — John Steinbeck

=================================

"I loathe people who keep dogs. They are cowards who haven’t got the guts to bite people themselves."
    — August Strindberg