May, 2007

Spiritual Confusion pt.2

Kebigungan Spiritual (bag.2)

Banyak sekolah-sekolah di belahan-bumi-Timur, seperti halnya juga jalur-jalur pengajaran-spiritual yang valid di berbagai tempat, kadang masih tetap mempertahankan jejak-jejak dari elemen yang bisa dikenali sebagai bagian dari suatu tingkat kesadaran dan bentuk hidup dari suatu tingkat evolusi-spiritual yang tinggi. Jejak-jejak ini dapat berasal dari beragam guru-spiritual yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi maupun dari individu-individu tingkat tinggi yang bekerja-sama dalam bentuk yang menjanjikan. Kenyataan yang menyedihkan adalah kebanyakan dari jalur-jalur spiritual ini telah kehilangan kualitas-nya menjadi hanya sebagai bentuk kegiatan-kegiatan sosial-budaya sambil membawa tiruan dari pendahulu mereka.
Kegiatan-kegiatan sosial-budaya ini kemudian berlanjut dan membuka semacam “toko” di berbagai negara, tanpa terkecuali menarik ke dalam situasi yang tidak berguna, orang-orang yang memiliki gangguan emosional, selfish, egois, para pe-ragu yang malas dan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang dangkal. Orang-orang "yang-tidak-pantas" kemudian menemukan dan mendapatkan sesuatu yang mereka sukai dalam ribuan kegiatan dan situasi yang konyol, dan penuh kepura-puraan, yang mana malah membuat kemunduran yang semakin jauh dan menjadikan mereka mendapatkan berbagai alasan untuk ragu, tidak yakin dan menambah kerusakan pribadi mereka.

Pada saat ini terdapat suatu trend yang cepat dalam peningkatan jumlah orang-orang yang secara emosional mudah terbujuk dan terpengaruh oleh “guru-guru” yang konyol dan bergaya dan juga terdapat banyak tipe kritikus spiritual yang mengandalkan otak-nya semata yang senang untuk ber-adu-argumen dan berdebat dengan siapa saja yang memberi perhatian terhadap mereka. Mengharapkan sesuatu dari orang-orang yang biasa saja secara emosional atau dari tipe pemikir-otak-semata hanyalah membuang-buang waktu percuma. Orang-orang semacam ini hanya akan terus melanjutkan per-kelompok-kan mereka yang emosional dan terganggu secara mental di satu pihak, dan orang-orang sinis yang tidak bisa berkembang serta terisolasi di pihak lain.
Mereka akan terus hidup dalam alam pikiran rendah mereka dalam bayang-bayang yang merupakan fantasi, khayalan-khayalan dan pengetahuan yang dangkal. Mereka kadang berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki segala kepandaian-praktis, tapi sebenarnya mereka tidak akan pernah memiliki kreativitas yang sebenarnya ataupun intuisi yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan kemampuan emosional dan intelektual tingkat tinggi mereka belum aktif, tersadar dan berfungsi.

Apakah kamu siap untuk menghadapi kenyataan tersebut diatas dalam proses pencarian spiritual-mu sendiri? Ketahuilah, bahwa struktur gaib yang meliputi kebenaran spiritual tidak akan sulit untuk dimengerti ketika kamu tidak lagi berusaha sekuat-kuatnya untuk melayani dan memenuhi kerakusan-emosional-mu dan ke-arrogansi-an intelektual-mu. Persepsi dan kemampuan untuk melihat, mendengar dan merasakan tingkat-yang-lebih-halus berkembang diatas ketenangan mental. Experimen-experimen sosial dan argumen-argumen yang hanya berlandaskan logika dan otak semata akan menjadikan kesadaran seseorang terlalu dangkal dan terbatas, tak mampu untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi.

(terjemahan bebas versi gw.01)
================================

Many of the schools in the East, as well as other lines of valid esoteric work elsewhere, sometimes retain traces of elements of what was at one time a conscious, living form of higher evolutionary work of various advanced teachers and advanced individuals cooperating together in a promising manner. The sad fact is however that most of these lines of work have degenerated into socio-cultural activities carrying on in imitation of their predecessors. These socio-cultural activities then went on to "set up shop" in a variety of other countries, indiscriminately drawing emotionally disturbed, selfish and lazy doubters and shallow believers into useless situations. The unworthy have sought and found something they like in thousands of silly, pretentious situations, which has caused further degeneration and good reasons for doubting, hesitating and personal rotting of isolated seekers.

There is this on-going proliferation of groups of gullible emotionals surrounding silly, self-styled "teachers" coupled with a vast scattering of isolated brainy esoteric critics who want to argue with anyone they can get attention from. To expect anything from ordinary emotional or brainy type people is a waste of time. They will continue in their neurotic emotional groupings on the one hand and their cynical self-stagnating isolations on the other hand. They will go on living in their lower mind of dull fantasies, daydreams and superficial knowledge. They will sometimes think they are people of practical intelligence, but they will have no real creativity or higher intuition. This is because both their higher emotional and higher intellectual centres are not yet awake and functional.

Are you prepared to face these facts in your own spiritual quest? You know, the hidden structure of surrounding spiritual realities is not difficult to see when you are no longer desperate to satisfy emotional greed or intellectual arrogance. Subtle perception thrives on mental peace. Social experiments and brainy arguments make one’s consciousness too superficial and limited for higher purposes.

(copyright: Absolute Oracle)

Become Light

If you want a customer who would pay in gold
Could there be a better customer than God, O my Heart?
He buys our shabby bags of goods
and in return gives us an inner Light, lend from His Splendor

He receives the dissolving ice of this mortal body
and gives us a kingdom beyond imagining
He takes a few tear drops
and gives us a spiritual spring so delicious
even sugar is jealous of its sweetness

And if any doubt should waylay you
relay upon those spiritual traders, the prophets
the Divine Ruler increase their fortune so greatly
no mountain could bear what they have been given

No mirror ever become iron again
No bread ever become wheat
No ripened grape ever become sour fruit
Mature yourself and be secure from a change for the worst
Become Light

(Rumi)

Spiritual Confusion

Kebingungan Spiritual

Banyak orang sibuk mencari jalan yang benar menuju pengembangan diri manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan menuju suatu tingkat kosmis tentang kesadaraan akan Tuhan, tetapi mereka malah menjadi bingung dengan banyaknya pendapat-pendapat yang sepertinya saling bertentangan dari berbagai macam sumber, guru, group dan sekolah-sekolah, serta tradisi-tradisi. Kebingungan ini kadang terjadi dalam waktu yang lama sampai mencapai suatu komitmen yang kuat atau untuk mencapai suatu pendirian atas suatu keyakinan, dan bahkan lagi, tidak masalah seberapa menenangkan pilihan yang telah diambil, komitmen dan keyakinan itu akan terus dihantam oleh keraguan-keraguan selanjutnya, oleh ketidak yakinan diri dan oleh kekacauan inter-personal. Hal ini dikarenakan semua kepercayaan dan ketidak percayaan, keyakinan dan keraguan, adalah merupakan bahan tipuan-diri dari otak meteril manusia.

Kejelasan sebenarnya dan rasa-tentang-arah-yang-benar datang dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi yang tidak mencari kepastian-kepastian semu. Kepastian-semu ini biasanya tampak memuaskan bagi kebingungan dan keraguan yang berkerja di tingkat otak-fisik-manusia. Sistem kecerdasan otak-fisik bukanlah alat yang dapat dipakai untuk memenuhi pencarian-diri tentang Jiwa.

Salah satu alasan utama mengapa sang-pencari tetap tertahan tanpa ada kemajuan, tak mampu ber-evolusi, ragu dan tak mampu dengan benar mencapai koneksi pada tingkat yang lebih tinggi adalah adanya sifat dasar manuasia yang malas dan terlalu-mementingkan-diri-sendiri (selfish). Sang-pencari, walaupun tampaknya tertarik dengan masalah tentang perubahan dan evolusi-diri, pengen mendapatkan kebebasan dari tanggung-jawab materil dan tidak mau untuk melakukan suatu kerja yang merupakan bentuk amal dan melayani bagi kebaikan semua.

Sang-pencari merasa memiliki kedudukan yang tinggi dan merasa cukup pandai dan canggih dalam pikirannya sendiri sehingga merasa tidak perlu untuk turun ke level-manusia-kebanyakan untuk menolong dimana pertolongan dibutuhkan. Para-pencari seperti ini tidak akan pernah dapat mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Arogansi, keangkuhan, kemalasan dan penilaian yang salah dan buta terhadap berbagai guru spiritual dan situasi yang terjadi merupakan sesuatu yang hanya akan membawa mereka menurun ke lembah keraguan, ke-sinis-an, dan kehancuran-diri yang terus-menerus. Mereka kadang-kala dapat melihat dengan jelas keterbatasan dari berbagai macam “jalan-spritual”, tapi mereka tidak mampu melihat kehinaan dan ketidak-pantasan diri mereka sendiri untuk mencapai kebenaran-yang-sesungguhnya. Yang terjadi adalah, kebenaran-yang-sesungguhnya bersembunyi dari orang-orang peragu yang mengalami kehancuran-diri tersebut.

Suatu ungkapan bijak yang perlu untuk diingat oleh para pencari menuju dimensi perkembangan jiwa yang lebih tinggi adalah: “Jangan mencari jalan-spiritual ditempat orang-orang yang-tidak-pantas berkumpul untuk mencarinya.”

… bersambung

(terjemahan bebas versi gw.01)
===========================

Many people seek to find a way into genuine higher human development and cosmic states of God-Consciousness, but they become confused by the many conflicting claims of various authoritative teachers, groupings and schools, lineages or traditions. This confusion can take a long time to reach a strong commitment or standpoint of certainty, and even then, no matter how calming the choice may be at first, the commitment or certainty is subject to further doubts, inner turmoil and interpersonal disturbance. This is because both belief and disbelief, faith and doubt, are all too much self-deceptive things of the material human brain.

Real clarity and sense of direction come from a higher level of consciousness that is not seeking a petty certainty that would seem satisfying to the confusions and doubts operating in the material human brain. The outer physical cognitive system is not the means of fulfilling an inner quest of the Spirit.

One of the main reasons the seeker is kept stagnate, unevolved, doubting and unable to make the right higher connection is basic human selfishness and laziness. The seeker, though apparently interested in evolutionary subjects, wants relief from material responsibilities and does not want to have to perform any works of valid service for the real good of all. The seeker feels too lofty and advanced in his or her own mind to have to "go down" to humane levels of helping out where help should be given. And such seekers do not go to spiritual heights. Their arrogant laziness and nasty judgements toward various spiritual teachers and situations only lead them on a downward path of endless scepticism, cynicism and personal rotting. They can sometimes see the limitations of various obvious, well-advertised paths, but they do not see their own unworthiness for the real thing. In fact, the real thing hides itself from such self-rotting doubters.

The very wise saying which any seeker of higher dimensional development should keep in mind: "Do not seek the way in a place where the unworthy seek it."

(copyright: Absolute Oracle)

The Realm of Hungry Ghosts

Apa yang sebenarnya paling penting untuk dipikirkan dan dibicarakan?
Siapa dan apa yang menentukan hal tersebut dan untuk siapa?

Secara existensial, subjek yang paling penting untuk dibicarakan biasanya adalah diri-personal, keberadaan-dunia-ini sebagai suatu akumulasi-dari-sejarah-personal dengan segala harapan dan ketakutan-nya bergerak menuju masa depan-nya dengan segala kepercayaan dan ketidak-percayaan-nya tentang hidup, mati dan kemungkinan hidup-setelah-mati atau kemungkinan kecil tentang reinkarnasi si individu yang berada dalam ruang-waktu ke dalam tubuh dan pikiran di masa depan. Beberapa orang mungkin secara serius mengembangkan kemungkinan kehidupan-yang-abadi sebagai suatu bentuk hubungan-yang peduli-secara-super-existensial dengan dunia-nya. (phew.. itu kalimat terakhir susah bangt diterjemahin.. entah maksudnya apa.. :D )

Kepedulian kita, aspirasi atau ketidak-nyamanan kita terhadap masa depan sangatlah jelas dibentuk dari keyakinan kita tentang alam semesta (cosmogony), pandangan-terhadap-dunia atau pilihan-pilihan kepercayaan tentang berbagai topik. Model Realitas yang kita miliki, kumpulan kepercayaan atau ketidak-percayaan, menentukan kepedulian tentang keber-ada-an kita, sistem nilai kita, yang dari sana kita menentukan apa yang paling penting untuk dipikirkan dan untuk dibicarakan. Tetapi sisi-lain dari hal tersebut adalah, bahwa segala yang kita pedulikan akan membentuk kepercayaan dan ketidak-percayaan kita.
Jika kita lebih peduli dan tertarik dengan pengalaman sexual, kekuatan finansial atau keberadaan sosial atau tentang kepopuleran, kita cenderung (tanpa sadar) meyakini bahwa kita tidak lebih dari tubuh fisik tanpa kemungkinan hidup setelah mati nanti. Pandangan lain apapun yang mencoba mempertanyakan tentang keyakinan kita yang tampaknya praktis dan memuaskan itu akan membuat kita agak kurang nyaman. Kita mungkin tidak ingin membuat suatu percobaan keluar-dari-tubuh dan pemikiran praktis yang mendalam tentang Enam Alam Pikiran seperti yang dijelaskan dalam tradisi Tibet, dimana alam-alam itu disebut Bardos.

Kita mungkin tidak akan pernah, misalnya, pengen tau tentang Alam/Bardo dari Hantu-Kelaparan (the Realm of the Hungry Ghosts). Bayangkanlah, jika kita dapat memahaminya, ketika kita mati, kita akan kehilangan panca indra dan organ-organ kesenangan fisik kita, seperti organ sex dan mulut kita, yang dari-sanalah kita merasakan kesenangan sexual dan merasakan makanan-lezat. Sayangnya, energi-kehidupan kita dan energi-memori dan ingatan kita tentang sex dan makanan, seperti halnya juga nafsu kita akan hal-hal tersebut, akan terus ada bersama dengan jiwa dan energi-pikiran kita, walaupun kita telah kehilangan tubuh-fisik atau soma. Maka ketika hantu-cowok bertemu dengan hantu-cewek yang sangat-menarik, dan masing-masing saling menyukai dan tampak menarik, mereka tidak bisa sama sekali malakukan hubungan sex, yang mana akan membuat sangat frustrasi.
Juga, kita tidak bisa lagi sebenarnya menikmati makanan dan minuman, tak peduli sebetapa lapar atau hausnya kita dalam alam energi-arwah yang tidak lagi memiliki tubuh-fisik-organisme. Hal ini sepertinya akan sangat terasa menyiksa bagai neraka dan menjijikan! Tentunya hal ini akan menjadi semacam set-up yang sangat tidak nyaman untuk jutaan orang di-dunia-ini yang sangat tenggelam dalam sex dan makanan mereka, yang dengan kurang bijak-nya menuju kedalam keadaan frustrasi-berat setelah mati nanti tak peduli apakah mereka percaya atau tidak dalam otak fisik-nya yang-pasti-akan-dikuburkan.

Untuk seseorang yang kering, ilmuwan-intelektualis yang arrogan dan kompetitif secara intelek, seorang dengan type seperti otak-di-dalam-kotak, yang tidak begitu tertarik dengan sex atau makanan. Tipe seperti ini mungkin tidak akan begitu terancam oleh Alam Hantu-Kelaparan tetapi oleh Alam Hantu-yang-Iri (the Realm of Jealous Demons), dimana penderitaannya dalam bentuk isolasi-diri dalam kegelapan yang sangat menyengsarakan dan dia harus menghadapinya dengan hanya membawa pandangannya tentang Dunia dan Model-Realitas-Materil-nya yang dialam arwah nanti akan hancur berantakan. Juga, seseorang yang meninggal dengan tipe tersebut, seorang yang-tidak-percayaan dan sinis harus terus-menerus mengalami bahwa tidak ada seorangpun di Langit ataupun di Bumi yang sama sekali peduli akan apa yang dia percayai atau tidak percayai. Dia akan mulai berharap bahwa dia dan otaknya benar-benar mati dan lenyap pada saat maut terjadi, karena sekarang di alam-arwah dia harus berpikir dengan sangat tidak nyaman tentang segala sesuatunya didalam kegelapan yang hampa dan kosong tentang keadaan-nya sebagai hantu yang tidak penting, a total “nobody”.

Dan bagaimana bila ternyata ada Alam-Bardo-Tibet Penghuni-Neraka bagi mereka yang hidup dalam Kebencian, Kemarahan, Kepedihan, Frustrasi dan Depresi atau Kesedihan dari Rendah-Diri yang extrim? Mengembangkan emosi negatif yang berat bisa saja menjadi Pintu-Gerbang Neraka yang nyata dan akan terasa bagaikan perasaan panas atau kedinginan yang terus-menerus.

(terjemahan bebas versi gw.01)
===========================

What is really most worth thinking and talking about?  Who or what decides this and for whom?

Existentially, the most important subject is usually the personal self, the being-here-in-the-world as an accumulating-personal-history with its hopes and fears moving into its future with its beliefs and disbeliefs about life, death, the possible after-life and the even more remotely possible reincarnation of causal timespace individuality in a future body and mind.  Some also seriously cultivate a possible physical immortality as a superexistential concernful engagement with their world. 

Our concern, aspiration or anxiety toward the future is obviously shaped by our cosmogony, worldview or set of paradigms on various topics.  Our Reality Model, our set of beliefs and disbeliefs, determines our existential concern, our value system, which is how we decide what is most important to think and talk about.  But there is also a flip side to all this, for what we are most concerned about also will shape our beliefs and disbeliefs.  If we are most concerned and engaged with our sexual, financial or social leadership or popularity concerns, we tend to believe we are nothing but physical bodies with no necessary life after death or future reincarnation.  Any worldview that would question our seemingly pragmatic and satisfying beliefs and disbeliefs makes us rather uncomfortable.  We would not want to make a pragmatic in-depth and experiential out-of-the-body investigation of the Six Realms of Mind described by the Tibetan tradition, which realms they call Bardos. 

We would not, for instance, like to know about the Realm/Bardo of the Hungry Ghosts.  Apparently, if we can comprehend it, when we die, we lose our physical sense organs of pleasure, such as our sex organ and our mouth, with which we have the pleasures of sex and tasty food.  Unfortunately, our life-energy and energetic memories of sex and food, as well as the desire for these, goes with our subtle surviving mind or psyche in spite of our loss of body or soma.  Hence when boy ghost meets desirable girl ghost, and both appear physical and attractive, they cannot actually have sex, which is horribly frustrating.  Also, we cannot actually taste desirable food or drink no matter how heavily we hunger or thirst in our departed energy double which is no longer in the required physical organism.  This can apparently become quite hellish and disgusting!  Now this can obviously be a very diabolical set-up where billions of people who are extremely into their sex or food on Earth are headed unwittingly to heavy post-mortem frustrations in spite of their disbelief system in their soon-to-be-buried physical brain. 

For a dry, intellectual scientist who is arrogant and intellectually competitive person, a brain-in-a-jar type, who is not much into sex or food, he is perhaps not as threatened by the Realm of the Hungry Ghosts as by the Realm of the Jealous Demons where the suffering is a self-isolating darkness of intense anguish which he has to deal with, having only his intensely shattered Worldview or Materialism Reality Model.  Also, such a departed heavy, cynical disbeliever has to endlessly experience that no one in Heaven and nobody on Earth particularly gives a shit what he believed or disbelieved.  He begins to wish that he had been extinguished with his brain at death, for now he has to think anxiously about everything in a dark void of emptiness and seeming futility as a deceased and unimportant ghost, a total “nobody”.

Disbelieving in the After-life while cultivating bodily pleasure is playing a kind of psychic Russian Roulette with our own Being-here in the erroneous gamble that we have no Being-there.  It is, after all, our ass on the line, not theirs in regard to us.  And what if there really is a Tibetanoid Bardo Realm of Hell-Dwellers for those who get too heavily into Hatred, Anger, Bitterness, Gloom and Depression or Sorrow of extreme Self-pity?  Cultivating heavy negative emotions might be a genuine Gateway of Hell and what might feel like endless burning or freezing.

copyright: Absolut Oracle

Moto-GP, Le Mans 2007

Hari yang mendung buat Rossi di balapan Moto-GP, Le Mans-Prancis kemaren.
Start di urutan ke-4, di akhir lap-1, Rossi dapat memimpin lomba. Sepertinya dia akan menjadi juara dengan mudah ketika dia dapat terus meningkatkan jarak dari para pembalap lain. Sampai kemudian hujan mulai turun, awalnya rintik-rintik dan akhirnya menjadi hujan lebat..
Balapan yg cukup penuh kejutan, karena trek yang awalnya agak kering-cenderung-basah membuat beberapa pembalap menjadi hati2 (tak terkecuali Rossi) dan beberapa pembalap laen mencoba per-untungan dengan memacu motor lebih cepat. Hujan yg meskipun rintik2 akhirnya memakan korban beberapa pembalap yg terpeleset ataupun terpelanting dan terpental dengan keras.
Ketika hujan menjadi semakin agak-lebat dan pasti, para pembalap tidak punya pilihan lain selain masuk pit dan mengganti motor dengan yang memiliki ban-khusus-untuk-trek-basah.
Rossi yang awalnya sangat cepat pada trek kering, seperti kehilangan kecepatan pada motor-nya yang memiliki ban-basah. Dan akhirnya finish diurutan ke-6.

Pada balapan sebelum-nya di Shanghai, Rossi kembali di-pecundangi oleh Stoner. Walaupun telah berusaha extra-super-keras, motor Ducati-nya Stoner bahkan terlalu kuat dan cepat untuk seorang Rossi sekalipun.
Masih 13-lomba yang tersisa, masih banyak peluang dan kemungkinan.
Sepertinya akan semakin seru…

Rossi02

Rossi dkk, sewaktu trek kering

Rossi01

sewaktu trek basah..

Rdp

dan pembalap Kawasaki yg terpental…

Iblis dan Tukang Kayu

Alkisah, ada seorang penebang kayu yang taat dan tinggal di sebuah hutan yang berdekatan dengan desa suku primitif. Para penduduk desa tersebut menyembah sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah desa mereka. Suatu hari si penebang kayu memutuskan untuk menebang pohon tersebut. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa apa yang mereka sembah bukanlah apa-apa selain ciptaan Tuhan, dan bahwa mereka harus menyembah Tuhan, bukan pohon.

Saat ia berjalan menuju desa tersebut, seorang pria mencegahnya dan menanyakan ke mana ia akan pergi. "Demi Tuhan, aku akan menebang pohon yang disembah oleh suku yang hidup di tengah hutan."

"Itu suatu kesalahan," pria tersebut mengingatkan.

"Siapakah kau hingga berhak mengatakan apa yang harus kulakukan?" tanya si penebang kayu.

"Aku adalah iblis dan aku tidak akan membiarkan dirimu menebang pohon tersebut."

Penebang pohon tersebut menjadi marah. Ia menarik sang iblis dan membantingnya ke tanah, dan melekatkan kampaknya pada leher sang iblis.

Iblis tersebut berkata, "Kau bersikap tidak masuk akal. Suku tersebut tidak akan pernah membiarkan dirimu menebang pohon suci mereka. Bahkan, jika kau mencoba melakukannya, mereka mungkin akan membunuhmu. Istrimu akan menjadi janda dan anak-anakmu akan menjadi yatim. Di samping itu, bahkan jika kau berhasil menebang pohon tersebut dan selamat, maka mereka akan memilih pohon yang lain untuk disembah. Pikirkanlah."

Iblis kerap berbicara dengan suara logika dan akal. Masing-masing kita pernah mendengar suara batiniah, yang dengan giat mendebat melawan kebaikan yang kita kerjakan atau yang kita ketahui sebagai hal yang benar. Ada sesuatu di dalam diri kita yang selalu mampu menemukan alasan-alasan untuk melakukan apa yang mudah daripada apa yang benar.

Iblis tersebut melanjutkan, "Aku akan membuat penawaran denganmu. Aku tahu bahwa kau seorang miskin, namun juga orang yang taat dengan sebuah keluarga yang besar, dan kau senang membantu orang lain. Setiap pagi aku akan menaruh dua koin emas. Selain terhindar dari bahaya pembunuhan dan tidak memperoleh apa pun, kau dapat menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan keluargamu dan juga membantu orang-orang miskin.

Penebang kayu tersebut menyetujuinya. Keesokan paginya, ia menemukan dua buah koin emas di bawah tempat tidurnya. Ia membeli makanan dan pakaian baru untuk keluarganya dan membagikan sisa uangnya untuk orang-orang miskin. Pada pagi berikutnya, penebang kayu tersebut tidak menemukan apa pun. Ia mencari ke seluruh ruangan, tetapi tetap tidak menemukan koin emas.
Merasa berang terhadap penghianatan sang iblis, si penebang kayu mengambil kampaknya dan bersiap-siap untuk pergi menebang pohon tersebut.

Sang iblis kembali mencegahnya, sambil tersenyum ia bertanya, "Kau akan pergi ke mana?"

"Penipu, pembohong! Aku akan menebang pohon itu!"

Iblis menyentuh dada si penebang kayu dengan satu jarinya. Si penebang kayu terjatuh ke tanah, kaget akibat kekuatan sentuhan tersebut. Lalu, iblis menyentuh dada sang penebang pohon dengan satu jarinya dan menekannya ke tanah. Sang iblis berkata, "Kau ingin aku membunuhmu? Dua hari lalu kau akan membunuhku. Berjanjilah, kau tidak akan menebang pohon tersebut."

Si penebang kayu menjawab, "Aku berjanji tidak akan menebang pohon tersebut. Katakanlah satu hal kepadaku, dua hari lalu aku mengalahkan dirimu dengan mudah. Darimana kau dapatkan kekuatan yang luar biasa pada hari ini?"

Sang iblis tersenyum kembali. "Saat itu kau akan menebang pohon tersebut karena Tuhan. Namun, hari ini kau berkelahi denganku karena dua buah koin emas!"

Ketulusan dari si penebang kayu hanyalah bersifat sementara, dan dengan mudah digoyahkan oleh sang iblis. Berapa kalikah kita telah membodohi diri kita dengan berpikir bahwa kita bertindak dengan ketulusan yang sempurna, sementara pada kenyataanya motivasi kita tidaklah begitu murni?

dari buku: Heart, Self and Soul
oleh: Robert Frager

Kata-kata dan Do’a

Seorang pria kaya dan terhormat mengundang beberapa tamu penting pada sebuah jamuan makan malam. Tamu-tamu tersebut juga termasuk seorang syekh sufi yang terkenal dengan kemampuannya menyembuhkan, dan juga seorang menteri kesehatan, yakni seorang dokter yang memperoleh pendidikannya di Perancis.

Setelah makan malam, putri tuan rumah tiba-tiba merasa pusing dan harus dibaringkan di atas tempat tidur. Tuan rumah meminta sang syekh berdoa untuk sang putri. Syekh pun menghampiri sang putri dan mulai mengucapkan beberapa doa untuk memohon kesembuhan.

Hal ini membuat kesal menteri kesehatan, yang kemudian menggerutu bahwa tahayul semacam itu haruslah disingkirkan. "Sekarang ini," katanya, "kita memiliki suntikan vitamin, obat-obatan modern, dan cara ilmiah lainnya untuk menyembuhkan orang. Omong kosong yang ketinggalan zaman seperti ini akan menghambat kemajuan kita!"

Sang syekh menoleh pada sang menteri dan berkata, "Aku tidak mengetahui bahwa mereka memakaikan seragam menteri kepada seekor keledai pada masa sekarang ini! Bagaimana mungkin seorang pria bodoh dan tidak peka semacam ini dapat menjadi seorang dokter, terlebih lagi seorang menteri?" Sang menteri menjadi kalap. Wajahnya merah padam. Ia begitu marah, sehingga tidak dapat berkata-kata.

Dengan nada suara yang lembut dan sopan, sang syekh segera berkata, "Tuan menteri, maafkan saya. Saya mengucapkan kata hinaan tersebut hanya untuk menjelaskan sesuatu. Lihatlah bagaimana wajah Anda menjadi merah, pembuluh darah Anda menjadi membesar, jantung Anda berdebar-debar, dan laju adrenalin Anda menjadi meningkat. Semua itu hanya disebabkan oleh beberapa kata. Jika ucapan duniawi dapat menyebabkan perubahan fisik semacam itu, maka mungkin saja kalimat suci dari kitab Tuhan dapat membantu membawa kesembuhan."

dari buku: Heart, Self and Soul
oleh: Robert Frager

Implicit Asociation Test

Dapat test yg menarik di Internet.
Pengukuran tentang seberapa cenderung seseorang terhadap suatu kelompok (Ras, agama, sex, gender, berat-badan, etc)
Cukup menarik juga..

buat yg mau coba, silahkan click link ini:

https://implicit.harvard.edu/implicit/

- click on "Demonstration"

- click on "Go to demonstration test"

- click on "I wish to proceed"

- and there you go…